Candi ini belum banyak diketahui orang, tidak seperti candi
Borobudur dan candi Prambanan yang sudah termasyhur. Padahal, candi Sukuh
adalah candi yang tergolong kontroversional karena bentuknya yang kurang lazim.
Pasalnya, candi ini memiliki bentuk seperti piramida suku Maya di Amerika
Tengah yang sekaligus mengingatkan kita akan bentuk-bentuk piramida di Mesir.
Letaknya terpencil di lereng Gunung Lawu pada ketinggian kira-kira
1.186 m dpl. Tepatnya, di dukuh Berjo, Desa Sukuh, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten
Karanganyar, Jawa Tengah. Suhu di area candi ini cukup membuat kita merasakan
hawa dingin yang sejuk.
Dari Terminal Tirtonadi Solo, kamu bisa
naik bus umum jurusan Solo-Tawangmangu dan turun di Karang Pandan, dilanjutkan
dengan minibus jurusan Kemuning dan disambung dengan ojek hingga ke kawasan
candi. Bila membawa kendaraan sendiri, disarankan untuk memakai mobil diesel
bertenaga 2000 cc atau lebih untuk memudahkan perjalanan melewati beberapa
tanjakan curam.
Tempat wisata candi Sukuh ini dibuka mulai hari Senin sampai
Minggu pukul 08.00 sampai 17.00 WIB.
Pengunjung domestik hanya merogoh kocek sebesar Rp 3.000,- saja untuk memasuki
candi tersebut. Widiih murah banget kan Sobat, nampaknya candi Sukuh bisa
menjadi alternatif libur Lebaran.
Relief Tanpa Busana
Kompleks candi tidak begitu luas. Menempati sebidang tanah
berundak, gapura utama Sukuh tidak berada tepat di tengah melainkan di sebelah
kanan depan. Sisi kanan dan kiri dihiasi dengan beberapa relief. Sebuah
tangga batu yang cukup tinggi membawamu ke lorong gapura yang ternyata
dihalangi dengan rantai.
Untuk naik ke teras kedua, kamu harus turun lagi dan berjalan
memutar lewat sebelah kanan. Dari teras kedua barulah nampak dengan jelas
bentuk relief di sisi gapura ini. Salah satunya adalah gambar seekor burung
garuda yang kaki-kakinya mencengkeram seekor naga. Yang mengherankan adalah
adanya relief beberapa sosok manusia dalam keadaan polos, tanpa
busana sama sekali! Sesuatu yang cukup mencengangkan jika mengingat budaya
timur yang sangat kental dengan norma susila di Indonesia. Ditambah lagi bila
mengingat bahwa ini adalah candi, sebuah bangunan yang identik sebagai tempat
persembahyangan dan pemujaan dewa.
Mendekat ke candi utama di teras ketiga, berdiri sebuah panggung
batu setinggi pinggang orang dewasa di sebelah kirinya. Terdapat menara batu di
bagian depan panggung, lagi-lagi berhiaskan relief-relief erotis dari
sosok-sosok tanpa busana. Satu sisi menara bergambarkan relief berbentuk tapal
kuda dengan dua sosok manusia di dalamnya. Oleh kebanyakan orang, relief ini
dipercaya menggambarkan rahim seorang wanita dengan sosok sebelah kiri
melambangkan kejahatan dan sosok sebelah kanan melambangkan kebajikan. Sebuah
candi perwara berdiri di depan candi utama.
Misteri Piramida Terpotong
Satu lagi yang menarik dari candi Sukuh adalah arsitekturnya yang
berbeda. Jika candi-candi lain dibangun dengan bentuk yang menyimbolkan Gunung Meru,
maka Candi Sukuh memiliki tampilan yang sangat sederhana dengan bentuk
trapesium. Dibangun pada abad XV, beberapa
saat sebelum runtuhnya Kerajaan Majapahit, candi ini lebih menyerupai piramida
suku bangsa Maya dari Amerika
Tengah. Mungkinkah dua suku bangsa berbeda dari dua benua yang berbeda bisa
membuat bangunan dengan arsitektur dan desain yang nyaris serupa? Ataukah
memang ada pengaruh dari suku Maya dalam pembangunan Candi Sukuh pada masa pemerintahan
Raja Brawijaya ini? Berbagai teori dan dugaan pun bermunculan. Berbagai misteri dan pertanyaan memang masih
menyelimuti candi Sukuh.
Nah, berkeliling mencari jejak cerita dan potongan
bukti untuk menguak misteri sejarah masa lalu akan menjadi salah satu
pengalaman wisata yang menantang dan mengasyikkan.



0 Responses So Far:
Post a Comment